Angin segar sertifikasi berhembus di tengah-tengah “kegelisahan” yang sangat melanda mereka yang berprofesi sebagai guru, terutama guru swasta. Betapa tidak, mereka bekerja penuh seharian sementara gaji mereka sungguh jauh dari layak. Mungkin mereka terhormat di kelas, di depan anak-anak mereka, tetapi di luar, mereka minder, rendah diri ketika sudah berhadapan dengan masyarakat yang semakin hari semakin materialis dan hedonis.
Kini, kehormatan bukan lagi karena ilmu, sopan santun, dan status pekerjaannya. Sudut pandang terhadap kehormatan sekarang telah bergeser ke arah materi. Siapa yang banyak uang, kaya maka ia terhormat. Orang tidak lagi melihat, dari mana ia memperoleh harta itu. siapa yang rumah dan kendaraannya mewah maka ia akan dipuja-puja dan disanjung. Tidak lagi dipertanyakan, dari mana mereka mendapatkan semua itu.
Bagaimana dengan guru swasta di sekolah-sekolah swasta pinggiran di desa-desa terpencil? Jelas mereka tersisih. Bukan karena tak berpendidikan, tapi semata karena mereka adalah orang-orang tak berpunya. Maka tak aneh jika sertifikasi bagi mereka laksana angin segar di tengah terik padang gersang. Setetes embun di daun kekeringan, seteguk air di tengah kehausan.
Tapi rupanya, harapan itu masih jauh panggang dari api. Kegembiraan saat mengumpulkan portofolio seakan sirna begitu saja saat datang undangan untuk mengikuti PLPG, sebuah sarana yang (katanya) akan meningkatkan profesionalisme mereka sebagai guru.